JAKARTA - Pasar energi global kembali bergairah setelah harga batu bara menembus level tertinggi dalam lebih dari setahun.
Penguatan ini terjadi seiring langkah tegas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara terbuka mendukung industri batu bara nasional. Di saat bersamaan, kebijakan pengendalian produksi dari Indonesia ikut memperkuat sentimen positif di pasar komoditas.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$119 per ton. Harganya melonjak 2,37 persen dibandingkan hari sebelumnya. Level penutupan tersebut menjadi yang tertinggi sejak 23 Januari 2025 atau lebih dari satu tahun terakhir.
Kenaikan ini tidak lepas dari faktor kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan operasional pembangkit listrik tenaga batu bara. Pasar merespons cepat sinyal dukungan pemerintah terhadap industri energi fosil. Sentimen tersebut mendorong aksi beli yang signifikan di perdagangan internasional.
Langkah Gedung Putih dan Peran Pentagon
Dalam acara Champion of Coal di Gedung Putih, Trump menyatakan telah menginstruksikan Departemen Energi AS untuk mengamankan pendanaan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara di West Virginia, Ohio, North Carolina, dan Kentucky.
Kebijakan itu bertujuan menjaga operasional PLTU agar tetap berjalan di tengah tekanan transisi energi. Dukungan ini dipandang sebagai bentuk keberpihakan nyata terhadap industri batu bara domestik.
Trump juga mengumumkan akan segera menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan Departemen Pertahanan membuat perjanjian pembelian listrik langsung dengan PLTU.
Langkah tersebut dirancang untuk menjamin pasokan listrik andal bagi kebutuhan militer Amerika Serikat. Kebijakan ini memperlihatkan keterlibatan aktif sektor pertahanan dalam menjaga stabilitas energi.
"Kami sekarang akan membeli banyak batu bara melalui militer, dan itu akan lebih murah serta jauh lebih efektif dibandingkan apa yang telah kami gunakan selama bertahun-tahun," kata Trump.
Pernyataan tersebut menegaskan strategi pemerintah dalam meningkatkan permintaan domestik batu bara. Pasar menilai langkah ini akan menciptakan kepastian permintaan jangka panjang.
Trump turut menginstruksikan Menteri Pertahanan, Pete Hegseth, untuk menyusun kontrak pembelian listrik jangka panjang. Kantor instalasi energi Pentagon disebut akan mengejar perjanjian yang meningkatkan permintaan dan kepastian bisnis.
Gedung Putih juga mengumumkan dana sebesar US$175 juta dari Departemen Energi untuk peningkatan enam PLTU di Kentucky, North Carolina, Ohio, Virginia, dan West Virginia.
Lonjakan Permintaan Energi dan Faktor AI
Trump bahkan mengklaim pembangkitan listrik berbasis batu bara naik hampir 15 persen pada tahun pertama masa jabatannya. Ia memproyeksikan kenaikan tersebut bisa mencapai 25 hingga 30 persen pada tahun depan. "Lebih banyak batu bara berarti biaya lebih rendah dan lebih banyak uang di kantong warga Amerika," ujarnya.
Langkah agresif ini hadir di tengah lonjakan kebutuhan listrik akibat ekspansi industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Industri AI dikenal sangat haus energi sehingga membutuhkan pasokan listrik stabil dalam jumlah besar. Pemerintah melihat batu bara sebagai solusi cepat untuk menjaga daya saing global di sektor teknologi.
Kebijakan ini menandai perubahan arah dibanding tren satu dekade terakhir. Sebelumnya, penggunaan batu bara di AS terus menurun akibat tekanan energi terbarukan dan gas alam yang lebih murah. Kini Departemen Energi mengeluarkan perintah darurat agar sejumlah PLTU tetap beroperasi.
Departemen Dalam Negeri juga membuka lebih banyak lahan federal untuk konsesi batu bara di North Dakota, Montana, dan Wyoming. Di sisi lain, pemerintahan Trump menghentikan dukungan federal untuk sejumlah proyek tenaga angin dan surya. Regulasi yang sebelumnya mendorong transisi energi dari bahan bakar fosil pun dilonggarkan.
Strategi Indonesia Menjaga Keseimbangan Pasar
Selain kebijakan AS, langkah Indonesia mengurangi pasokan turut mendorong harga. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah memangkas kuota produksi dalam RKAB pertambangan batu bara tahun ini. Tujuannya adalah mengintervensi pasar agar harga tidak jatuh akibat oversupply.
Bahlil menegaskan kebijakan tersebut didasarkan pada prinsip supply and demand. Menurutnya, Indonesia sebagai eksportir besar seharusnya mampu mempengaruhi harga pasar global. Namun selama ini harga sering dikendalikan pihak asing sehingga perlu strategi pengaturan volume produksi.
"Kenapa RKAB itu kita potong? Karena supply and demand. Harga batu bara kita dikendalikan oleh asing. Maka saya bilang kalau begitu kita pakai hukum ekonomi supply and demand. Jadi kalau kita produksinya banyak permintaannya sedikit harganya murah. Ya kita buat aja keseimbangan berapa konsumsi itu yang diproduksi," ujar Bahlil di Jakarta.
Ia mencatat volume perdagangan batu bara dunia mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Indonesia menyuplai sekitar 560 juta ton atau menguasai pangsa pasar 43 hingga 44 persen. Meski demikian, dominasi volume tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan dalam penentuan harga.
Namun terdapat pengecualian bagi perusahaan pemegang PKP2B Generasi 1, termasuk tambang milik PT Bumi Resources Tbk dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk.
Selain itu, BUMN pemegang IUP juga tidak terkena kebijakan pemangkasan produksi tahun ini. Kebijakan selektif ini dirancang agar stabilitas industri tetap terjaga sambil mendukung penguatan harga global.